WELCOME

HALLO... ENJOY THE DAY ^^ ENJOY THE MEDICAL with Katolik Comunity n_n

Wednesday, September 5, 2012

Erosi Kornea Akibat Trauma Benda Asing Pada Mata


Erosi Kornea Akibat Trauma Benda Asing Pada Mata



Erosi Kornea Akibat Trauma Benda Asing Pada Mata
Abstrak
   Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak sengaja yang dapat menimbulkan perlukaan mata. 
Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata. 

Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata. 

Erosi kornea merupakan keadaan terlepasnya epitel kornea yang disebabkan trauma tumpul ataupun tajam pada kornea. Defek pada epitel kornea memudahkan kuman menyerang kornea sehingga mengakibatkan terjadinya infeksi sekunder. Insidensi erosi kornea pada dokter keluarga di Amerika Serikat mencapai 8% dari seluruh kunjungan pasien per tahun.
 Kejadian tersebut terutama dikaitkan karena adanya trauma mata pada tempat kerja. Erosi kornea sering kali diawali dengan trauma pada mata. Segera sesudah trauma atau masuknya benda asing, penderita akan merasa sakit sekali, akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata menjadi berair, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media yang keruh. 

Dapat pula disertai dengan blefarospasme, yaitu kelopak mata menjadi kaku dan sulit dibuka. 

Penegakkan diagnosis pada kasus erosi kornea dapat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik terutama pada mata, serta pemeriksaan tambahan seperti tes fluoresein. Kertas tes fluoresein dapat digunakan untuk mengetahui adanya kerusakan pada kornea. 

Jika tidak terdapat penyulit, erosi kornea dapat sembuh sendiri, namun dapat juga diberikan obat berupa antibiotik, analgesic, yang disesuaikan dengan keluhan penderita.

Kata kunci: erosi kornea, trauma benda asing, mata

Isi
Seorang laki-laki, 70 tahun datang ke Poliklinik Mata dengan keluhan mata kanan kelilipan, merah, nrocos, dan terasa sakit. Kurang lebih 5 hari yang lalu, mata kanan penderita terkena serpihan batok kelapa. Dari hasil pemeriksaan fisik, pada mata kanan didapatkan injeksi perikornea, erosi kornea, kornea tampak keruh, serta tes fluoresein menunjukkan hasil positif. 

Tes fluoresein merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui terdapatnya kerusakan epitel kornea. Hasil positif pada tes ini dilihat dari permukaan kornea yang berwarna hijau setelah kertas fluoresin disisipkan pada sakus konjungtiva inferior. 

Zat warna fluoresein jika menempel pada epitel kornea yang mengalami kerusakan akan memberikan warna hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat lebih basa.
Diagnosis: Erosi Kornea akibat Trauma pada Mata

Terapi
Terapi yang diberikan pada kasus ini berupa preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Terapi promotif berupa edukasi untuk menjaga higienitas, banyak mengkonsumsi sayur dan buah, serta segera berobat ke dokter spesialis mata jika obat habis atau terdapat keluhan. 

Preventif, yaitu dengan menggunakan kaca mata sebagai pelindung mata, serta rajin membersihkan mata dengan kapas yang dipilin, lalu disterilkan dengan cara direndam dalam air panas. 

Terapi kuratif adalah dengan pemberian obat antibiotik oral, antibiotik topikal berupa tetes mata, penghilang sakit dengan analgesik Asam Mefenamat, serta vitamin C dan B komplek. 

Sementara terapi rehabilitatif pada pasien ini adalah dengan mengkonsumsi obat secara teratur, mengikuti saran dan nasehat dokter, serta kontrol ke dokter spesialis mata jika obat habis atau terdapat keluhan pada daerah mata.

Diskusi
Dalam kasus ini mata kanan penderita terkena serpihan batok kelapa saat penderita mencoba memecahkan kelapa. Penderita mengeluhkan mata kanannya yang terasa sakit, merah, dan nrocos. Trauma pada mata dapat mengakibatkan berbagai macam gangguan penglihatan, hal tersebut antara lain dapat disebabkan karena terjadinya erosi kornea. 

Erosi kornea merupakan keadaan terlepasnya epitel kornea yang disebabkan trauma tumpul ataupun tajam pada kornea. Defek pada epitel kornea memudahkan kuman menyerang kornea sehingga mengakibatkan terjadinya infeksi sekunder.

Terdapat dua kategori erosi kornea, yaitu 
erosi kornea yang dangkal, yaitu erosi yang tidak melibatkan lapisan Bowman, 
erosi kornea yang dalam, yaitu erosi yang menembus lapisan Bowman tetapi tidak menembus  membran Descemet. 

Luka pada kornea dapat terjadi akibat benda asing, lensa kontak, bahan kimia, kuku, sikat rambut, cabang-cabang pohon, dan debu. Kornea memiliki sifat penyembuhan yang luar biasa. Epitel yang berdekatan dapat  mengembang untuk mengisi daerah yang luka, biasanya dalam waktu 24-48 jam. Lesi yang murni pada epitel sering sembuh dengan cepat dan tanpa jaringan parut, sementara lesi yang menembus hingga lapisan Bowman lebih cenderung meninggalkan bekas luka permanen. Pada penderita ini termasuk erosi kornea yang dangkal, karena kerusakan kornea tidak sampai menembus membran Descemet. Hal tersebut terlihat dari hasil pemeriksaan tes fluoresein yang menunjukkan warna hijau yang masih sedikit.

Erosi kornea sering kali diawali dengan trauma pada mata. Segera sesudah trauma atau masuknya benda asing, penderita akan merasa sakit sekali, akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata berair, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media yang keruh. Dapat pula disertai dengan blefarospasme, yaitu kelopak mata menjadi kaku dan sulit dibuka. Pada penderita ini didapatkan riwayat trauma mata disertai dengan keluhan sakit, mata merah, nrocos, dan pandangan kabur.

Penegakkan diagnosis erosi kornea dapat dilakukan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan lainnya. Penatalaksanaan pada erosi kornea bila tidak timbul penyulit dapat sembuh sendiri karena adanya serbukan aktif epitel konjungtiva dan kornea di sekitar erosi. 
Namun, dapat juga diberi pengobatan sikloplegik untuk mengurangi rasa sakit dan mengistirahatkan mata. 
antibiotik topikal berupa tetes mata, untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, mata ditutup, agar pertumbuhan epitel tidak terganggu oleh kedipan, mencari kemungkinan adanya benda asing yang masih terdapat di mata dengan membalik palpebra superior ke arah atas. Pada erosi kornea, tidak boleh diberikan steroid, karena steroid dapat menghambat penyembuhan epitel, menambah aktifnya kolagenase, selain itu juga dapat memudahkan terjadinya infeksi jamur maupun virus karena daya tahan kornea menurun akibat steroid.
 Pada penderita ini diberikan obat antibiotik oral, antibiotik topikal berupa tetes mata, penghilang sakit dengan analgesik Asam Mefenamat, serta vitamin C dan B komplek untuk memacu sintesis kolagen.



Kesimpulan
Trauma pada mata dapat mengakibatkan terjadinya erosi kornea. Erosi kornea merupakan keadaan terlepasnya epitel kornea yang disebabkan trauma tumpul ataupun tajam pada kornea. Defek pada epitel kornea memudahkan kuman menyerang kornea sehingga mengakibatkan terjadinya infeksi sekunder. Untuk menegakkan diagnosis erosi kornea dapat diperoleh berdasarkan hasil anamnesis, yaitu fotofobia, lakrimasi, blefarospame, gangguan visus, serta pada pemeriksaan didapatkan injeksi perikornea. Dapat juga menggunakan pemeriksaan lain seperti tes Placido, tes Fluoresin, tes sensitivitas atau kultur. Pada kasus ini penderita mengalami erosi yang dangkal, sehingga diberi antibiotic, dan terapi lain sesuai keluhan penderita. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah terjadinya hal yang lebih buruk atau komplikasi yang buruk seperti ulkus kornea.

1 comment: